Coba ingat kembali berapa
musim telah berganti
berapa kali daun-daun berguguran dan
kemudian tumbuh lagi
berapa kali musim hujan berganti kemarau.
Selama itulah kau memujaku
menganggapku sebagai lilin di kehidupanmu
yang memberimu terang saat tersesat dalam gelap
yang menuntunmu ke lorong yang benar saat terpuruk
di lingkaran kelam
Dalam putaran waktu yang tak pernah berhenti
kau selalu memujaku
dan akan selalu memujaku sebagai lilin,
penerang dalam hidupmu.
Tapi pernahkah terpikir olehmu,
bahwa:
Akupun ingin sekali atau mungkin dua kali
kau juga menjadi lilin dalam hidupku.
Terharu banget membacanya. Amat menyentuh hati.
BalasHapus