Jumat, 25 Juni 2010

Berikan Aku Alamat Lengkapmu di Surga, Ayah


Sebenarnya aku jarang menulis sesuatu berdasarkan pengalaman atau kisah nyata. Aku terbiasa menjadi seorang diktator ketika menulis, sesuka hati menjungkir balikkan kata dan pemeran-pemerannya. Tapi entah kenapa, malam ini aku ingin sekali menulis sesuatu tentang ayah. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadanya dan kuyakin dia di sana menunggu ungkapan hatiku ini.

Kalau harus jujur, aku harus mengakui bahwa hampir tidak ada kenangan berjudul keakraban antara beliau dengan kami anak-anaknya. Ayah adalah sosok yang kaku terhadap anak-anaknya tapi justru sangat akrab dan hangat terhadap orang lain. Dia bisa mengusap kepala anak orang lain, memeluknya dengan kasih, tapi tidak dengan kami darah dagingnya sendiri. Aku bahkan tidak ingat apakah dia pernah memeluk atau merangkulku ketika aku sudah bisa berpikir. Justru aku pernah merasa tertekan sewaktu duduk di bangku SMP. Setiap dia mengajar, (kebetulan beliau adalah guru di SMPku yang mengajar pelajaran Matematika dan Biologi) aku takut dan berharap lonceng cepat berbunyi. Kenapa?

Kebetulan sejak kecil aku tumbuh menjadi anak kidal. Makan, menulis, memotong, dsb, semuanya menggunakan tangan kiri. Tangan kanan hanya kupakai saat, maaf, cebok, (dan ini berlangsung sampai sekarang:)). Nah, jika beliau sedang mendikte di depan kelas, dia akan diam-diam terus memperhatikanku agar aku menggunakan tangan kanan dalam menulis. Biasanya aku terus menerus menunduk sambil mencoba menulis dengan tangan kanan meski memegang pulpen pun rasanya tangan kananku tidak dalam posisi yang pas. Aku takut menulis dengan tangan kiri karna dari rumah sudah selalu diingatkan “Biasakan pakai tangan kanan.” Menyedihkan sebenarnya. Coba sekarang anda menulis dengan tangan kiri dan apa yang anda rasakan? Begitulah yang kurasakan dulu. Sangat tidak nyaman tapi tetap harus kulakukan. Tapi berkat usaha, kerja keras, dan atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa (halahhh) akhirnya aku bisa menulis dengan tangan kanan.

Kembali ke ayah, dari segi fisik, beliau bisa dikategorikan laki-laki ganteng pada masa mudanya. Dia bertubuh tinggi, alis tebal dan hidung mancung. Karna terbiasa mendengar orang menyebutnya ganteng, maka kami biasanya senang kalo orang kampung berkata, “mirip kali kau sama bapakmu” atau “ bah, gak ada bedanya kau sama bapakmu’. Biasanya kami senang dan merasa diri cantik. Dan sebaliknya, kalo ada yang berkata “kau mirip mamakmu” , biasanya kami langsung cemberut karna sadar betul wajah si mamak yang ala kadarnya. Dan untungnya, aku termasuk jarang dibilang mirip dengan si mamak:)

Dari segi kepintaran, aku yakin sekali bahwa ayahku seorang yang jenius. Dia hebat dalam Matematika, , pintar menulis dan pintar berbicara. Selain itu ilmu filsafatnya tinggi dan pengetahuan umumnya amat luas. Di gereja, orang selalu menunggu kapan gilirannya berkotbah karna kotbahnya selalu terdengar segar, mengundang tawa dan membuat umat berani bertaruh tidak bakal mengantuk saat mendengar kotbah. Singkatnya, dulu aku selalu bangga kalau orang tahu bahwa dia adalah ayahku, dan aku adalah putrinya.

Tapi di samping semua kelebihannya, ayah memang punya kebiasaan buruk, yakni suka nongkrong di kedai. Dia jago bermain bilyar. Semua orang sekampung bisa dikalahkan sampai akhirnya tak ada lagi yang mau bertanding dengan dia. Akhirnya ayah berubah haluan menjadi pemain catur . Di sini juga, beliau tetap tak terkalahkan. Hampir selalu menang dan mungkin inilah yang membuatnya ketagihan. Hampir setiap malam dia bermain catur di kedai dan pagi-pagi harus berangkat ke sekolah. Tapi hebatnya, kualitasnya sebagai seorang guru teladan tetap terjaga dengan baik meski kurang tidur ataupun kelelahan. Di waktu malam ayah berkutat dengan pion, singa, raja, kuda, dengan ditemani bergelas-gelas kopi dan di pagi hari dia muncul sebagai sosok yang berwibawa, dikagumi dan dihormati.

Hobbi nongkrong di kedai inilah yang sering menjadi sumber perselisihan di rumah kami. Ibu adalah wanita yang rela melakukan apapun demi anak-anaknya. Meski sering membujuk kami agar tidak usah melanjutkankuliah karena faktor biaya, tapi kami yakin ibu tidak bermaksud sungguh-sungguh. Bahkan seandainya dulu salah satu dari kami bersedia untuk tidak melanjutkan kuliah, belum tentu ibu setuju. Tapi sebagaimana manusia pada umumnya, ibu juga punya sifat yang (I’m sorry, Mom,) sedari dulu sampai sekarang tidak kusuka. Ibuku seorang yang sangat ‘aktif menyuarakan isi hatinya’ ( cerewet maksudku, he he ).

Dan entah kenapa, kupingku selalu saja tidak bisa mendengar suara orang yang suka merepet tak karuan . Dan sialnya, ‘kualitas’ ibuku dalam hal yang satu ini tidak pernah menurun, malah makin lama makin terasah. Ibu tipe orang yang tidak bisa menjaga emosinya dalam ucapan, sehingga kadang ketika dia mulai merepet, banyak keluar kalimat yang tidak enak didengar telinga. Lama-lama aku mulai memahami bahwa dia memegang prinsip “Say First, Think Then”:-) Saking tidak sukanya aku mendengar ibu yang suka sekali merepet, aku pernah memberinya pelajaran.

Sewaktu duduk di kelas 6 SD atau 1 SMP (aku lupa tepatnya), aku mempersiapkan sebuah kaset kosong dan tape kecil yang bisa merekam. Pagi-pagi aku sembunyi di dapur karena hafal betul ‘prosesi’ merepet akan berawal dari sana. Dan ketika beliau mulai merepet, aku hidupkan tape itu dan rekaman pun di mulai. Ketika ibu beralih ke halaman, aku mengikutinya tetap dengan ‘record mode on’. Dan hasilnya, pita kaset sudah habis sementara ibuku masih terus nyerocos.

Malamnya, ketika kami semua berkumpul di ruang tengah aku ambil rekaman tadi. Malam hari kami biasanya menonton siaran TVRI dari TV hitam putih dan saat-saat begini ibuku biasanya sudah “siuman” sehingga situasi cukup kondusif. Lalu aku putar rekaman itu dengan full volume. Kakak-kakak ku semua tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Dan ajaibnya, ibuku sendiri malah kaget mendengar betapa kasar umpatan dan kalimat-kalimat yang dia ucapkan selama ‘prosesi’ itu. Setelah isi rekaman habis , ibuku berkata : “Ternyata ngeri sekali umpatan-umpatan saya kalau lagi marah “ . Dan pelajaran itu tidak berhenti sampai di situ. Setiap ada orang datang ke rumah, mulai dari tetangga, famili, pastor, suster, bruder, rekaman itu selalu aku hidupkan di depan mereka. Sampai akhirnya ibu malu sendiri. Dan malam ini, ketika aku mengingat perbuatanku dulu, aku berkata “ Ternyata dari dulu aku memang sudah kreatif:-)”

Seringnya ayah nongkrong di kedai menjadi pemicu utama ibu suka marah dan merepet dan aku bisa memakluminya. Tapi aku tidak suka karena dalam merepet, ibu selalu menghubung-hubungkan segala masalah dari jaman pra sejarah sampai jaman kemerdekaan. Aku ingin kalau ibu marah akibat ayah sering nongkrong di kedai, ya marahilah karena ayah nongkrong di kedai. Tapi jangan terus-terus membawa satu peristiwa ke peristiwa lain lagi.

Masa SMA, aku mulai bisa menilai dan sedikit-sedikit mulai berani mengutarakan pendapat pada ibu. Aku melihat ayahku adalah seorang pribadi yang punya banyak kelebihan. Kelemahannya hanyalah suka nongkrong di kedai. Dan bagiku masih bisa ditolerir. Dan kalaupun tidak bisa ditolerir, aku ingin caranya dimulai dari rumah, bukan dari diri ayah. Aku ingin ibu berhenti marah-marah setiap hari dan aku yakin ayah akan betah di rumah.

Memasuki bangku kuliah, ayah tetap pada kebiasaannya dan ibu juga tetap pada ‘keahlian’nya. Ayah bukan orang yang mau memperlihatkan rasa bangganya bila anaknya berprestasi, meski aku yakin dia bangga sebenarnya. Ketika kami menjadi juara atau mendapat piala atau beasiswa, dia tidak akan berkata apa-apa. Dia hanya akan berbicara bila misalnya ada nilai C dalam transkrip nilai kami. Jadi, secara tidak sadar, kami ditempanya berpikir bahwa menjadi yang terbaik itu bukan suatu kebanggan, tapi suatu keharusan. Dan mungkin pemahaman yang seperti inilah yang membuat kami semua selalu menjadi anak yang lurus dalam sekolah dan tidak pernah macam-macam. Kami, 7 perempuan dan 2 laki-laki, semuanya menjadi sarjana dengan waktu yang tepat dan dengan nilai yang memuaskan.

Pada masa-masa kuliah ini, aku sendiri sering mendengar keluhan ibu tentang ayah dan aku memahaminya. Kebiasaannya di kedai semakin menjadi-jadi sehingga kadang tidak tidur. Ayah bisa pulang jam 4 pagi dan hanya 2 jam karena jam 7 pagi beliau harus sudah berangkat ke sekolah. Pernah aku pulang ke kampung sewaktu kuliah selama 3 hari dan tidak bertemu ayah sampai aku kembali ke Medan. Kenapa? Karena ayah lebih banyak menghabiskan waktunya di kedai. Sepulang mengajar, ayah hanya makan selama 10 menit di rumah dan saat itu aku mungkin sedang keluar, atau tidur atau ke rumah tetangga. Dan ketika beliau pulang dini hari, tentu saja aku tengah tidur lelap. Ketika aku bangun pagi harinya, ayah sudah berangkat ke sekolah. Begitulah sampai akhirnya kami tidak bertemu.

Tapi di sisi lain, aku selalu tidak bisa menyalahkan ayah seratus persen. Jika ibu mengeluh tentang kebiasaan ayah, aku justru menentang ibu sehingga timbul persepsi bahwa aku lebih menyayangi ayah. Sampai akhir hayatnya, orang-orang menyebut aku sebagai anak kesayangan ayah. Padahal sebetulnya tidak. Aku hanya melihat ayah sebagai sosok yang punya banyak kelebihan. Dan aku tidak bisa menerapkan ilmu matematika dalam menilai orang. Jika ayah memiliki kekurangan, aku melihatnya sebagai hal lain, dan tidak bisa membuat kelebihan tadi hilang. Sementara di antara kami sembilan bersaudara, ada yang menerapkan ilmu pasti tadi. Kelebihan dikurangi kelemahan sehingga hasilnya bisa minus. Perbedaan pemikiran ini lah yang menimbulkan pendapat yang berbeda di antar kami bersembilan. Ada yang pro kepada ibu, ada yang netral, dan ada yang pro kepada ayah. Dan jujur, aku memang masuk ke dalam kelompok terakhir.

Tahun 1997, ketika aku sudah kuliah tingkat akhir, aku pulang dan kembali mendengar keluhan-keluhan ibu yang menurutku berlebihan. Entah kenapa, waktu itu aku merasa muak dan entah darimana datangnya ide itu, aku berkata pada ibu.
Bu, seandainya di kampung kita ada pemilihan Bapak Terbaik berdasarkan voting masyarakat dan di cari 100 finalis, maka aku berani bertaruh, ayah pasti lolos sampai 10 besar. Kenapa tidak melihat sisi baiknya ayah? Ibu selalu marah hanya karna ayah tidak pernah menutup tutup odol setiap selesai gosok gigi. Berapa energi ibu yang terbuang hanya untuk itu? Kenapa tidak katakan saja dalam hati “Oh ternyata suamiku tidak bisa menutup odol seumur hidupnya . Artinya akulah yang harus menutupnya.” Setiap hari ibu tidak pernah lupa memarahi ayah masalah odol tapi ibu tidak pernah mengomentari ayah yang terluka tangannya karna menyelamatkan anak kecil yang dikejar-kejar orang gila di pasar.”

Dan itulah pertama kalinya ibu terdiam dan tidak menjawab apa-apa. Akhirnya aku sendiri merasa bersalah dan tidak enak hati. Diam-diam aku masuk ke kamar dan menyesali kenapa harus berkata seperti itu tadi. Eh, rupanya perubahan besar terjadi esok harinya. Ibu tidak merepet lagi dan bersikap manis setiap ayah di rumah. Akhirnya, kuberanikan diri bertanya kenapa kog tumben berubah. Eh, aku terkejut ketika ibu bilang bahwa ucapanku beberapa hari sebelumnya sangat mengena di hatinya. Akhirnya aku ketawa dan sambil bercanda aku bilang bahwa ibu memang harus seperti itu. Selama beberapa waktu ibu betul-betul berubah. Tapi kira-kira sebulan kemudian ibu kembali ke habitatnya semula. Merepet dan marah-marah.:(

Ketika memasuki masa pensiun ayah mengalami semacam pergolakan bathin karena merasa disingkirkan sebagai vorhanger di gereja setelah menjabatnya selama berpuluh tahun. Akibat merasa sakit hati, ayah tidak pernah lagi ke gereja dan justru menghabiskan waktunya di kedai. Dari bermain catur, dia mulai beralih ke permainan kartu karena lebih banyak saingan. Minuman beralkohol yang sebelumnya tidak pernah disentuhnya mulai ikut menemaninya menyusun-nyusun kartu di selipan jarinya. Boleh ditebak, akibatnya kesehatan ayahpun berkurang.

Sekarang aku baru menyadari bahwa sebetulnya ayah kesepian pada masa-masa itu. Kami anak-anaknya yang sudah menikah semua tinggal di rantau. Dan yang paling kusesali sampai saat ini, kami memang jarang sekali menelepon ke kampung hanya utuk menanyakn kabar berita ayah dan ibu. Kami hanya menelepon bila kami ada masalah atau ada keperluan. Dan baru kusadari, bahwa setiap kali kami dilanda masalah, ayahlah yang selalu kami andalkan karena soulsi yang dia berikan selalu bijaksana. Ketika akhirnya ayah makin lemah dengan diabetesnya, aku pribadi sangat sangat menyesal karena merasa tidak mengusahakan pengobatan yang berarti bagi beliau. Kami semua anak-anaknya memang ditakdirkan Tuhan untuk membangun keluarga yang sederhana tanpa kemewahan. Tapi aku merasa, harusnya segala cara kami lakukan agar bisa memperpanjang hidupnya. Itu yang sering membuatku menangis.

Natal tahun 2007 kami semua berkumpul mengikuti permohonan ayah. Mungkin dia sudah
tahu umurnya tak lama lagi. Ketika malam Natal, dia memanggil kami satu persatu dan saat itu memorinya sudah mulai kacau. Kadang dia mengucapkan satu kalimat berulang-ulang tanpa dia sadari. Saat itu aku dilanda kepiluan yang teramat dasyat. Tak kutemukan lagi sosok ayahku yang dulu kubanggakan. Ayah yang ganteng, pintar, bijaksana, ramah, dan dihormati semua orang. Yang kulihat saat itu adalah sesosok laki-laki tua tak berdaya, kurus kerontang, dan terlihat pikun. Diam-diam aku menangis. Dan Januari 2008 ayah meninggal dengan cara yang sederhana. Orang bilang tidak menyusahkan, tapi aku justru melihatnya sebagi hal yang amat menyedihkan. Ayahku meninggal saat sedang makan mie dan dia pergi begitu saja. Tuhanku, betapa kasihannya ayahku itu!

Hari kesepuluh setelah kepergiannya, aku memimpikan ayah. Mimpi yang sangat menyedihkan. Di mimpi itu aku melihat ayah terduduk di kubangan kerbau dengan wajah kurus kering. Sepertinya aku berada di sebuah kendaraan yang sedang meluncur cepat dan aku amat terkejut melihat ayah terduduk di kubangan lumpur itu. Dalam mimpiku aku menangis melihat ayah yang terlihat begitu menderita di sana dan aku berusaha menghentikan kendaraan yang kutumpangi tapi tak bisa. Kupanggil ayah tapi beliau cuma menatapiku dengan pandangan yang sulit kuterjemahkan. Aku terbangun dan menangis sejadi-jadinya. Aku bayangkan ayah terbujur di liang kubur. Dingin, gelap, dengan kulit yang mulai melumer.
Tuhan, betapa mengerikan kematian itu!!

Beberapa orang mengatakan bahwa arti mimpi itu adalah ayah belum ikhlas di atas sana. Aku tidak tahu apa itu benar atau tidak. Tapi aku yakin, apabila semasa hidupnya ayah masih menyimpan kekesalan dalam hatinya, tidak mungkin ayah membawa nya dalam rohnya. Aku tahu ayahku adalah ayah yang pemaaf dan tidak mungkin bisa menyimpan kesal dalam hatinya terhadap kami anak-anaknya.

Semenjak kepergiannya, ada banyak masalah yang menimpa keluarga kami. Dari masalah kecil, sedang, dan besar. Jujur, aku sering berpikir, apakah ini karma atas dosa-dosa kami terhadap ayah? Apakah ini balasan akibat kami tidak pernah begitu memperhatikannya? Tapi di sisi lain aku yakin ayah tidak mungkin menyimpan dendam kepada kami.

Malam ini. pukul setengah dua dinihari, berurai air mata, aku menulis catatan ini. Kesedihan yang kurasakan sangat menyakitkan. Perasaan menyesal, bersalah, tidak berdaya, semuanya membuat aku terpuruk ke dalam lubang kesedihan.

Ayah, andaikan aku tahu alamatmu di surga, aku ingin kirimkan surat ini untukmu. Tidak ada dusta di dalamnya. Inilah kejujuranku. Maafkan aku, Ayah, apabila aku lebih mencintaimu ketika engkau sudah pergi. Tapi itulah yang kurasakan. Aku justru membutuhkanmu ketika engkau sudah tiada. Berikan aku sejuta maaf, apabila ada seribu kesal dalam hatimu.

Tuhan, aku tidak akan berkata, seandainya waktu bisa diulang kembali, karena aku tahu itu hanya membuang-buang waktuku saja. Aku hanya ingin tahu Tuhan, apakah di surga Mu itu ada tempat tidur berbusa, kamar mandi, makanan bergizi, dan tempat bersenda gurau? Apakah kamar ayahku memiliki ventilasi yang cukup? Bisakah ayahku minum susu dua kali sehari di sana? Apakah lampu kamar mandi cukup terang karena ayahku biasa ke kamar mandi tengah malam? Bisakah Engkau ingatkan ayahku dimana dia meletakkan kacamatanya karena ayahku sering lupa satu hal itu? Bisakah Engkau marahi dia bila minum terlalu banyak kopi? Maafkan aku bila terlalu cerewet ,Tuhan. Aku hanya ingin memastikan bahwa ayahku akan selalu baik-baik saja di sana, di surgaMu.

Jakarta dinihari.
With tear falling down
You always live in my soul, Ayahku

3 komentar:

  1. bah sarupa ate Ito, Bapak nami pe guru smp jala mangajar matematika. rutinitas na pe attar tong do songoni; sian sikkola tu lapo. Tu hauma manang tu ladang, oma dohot hami angka ianakhon hian do. Molo adong hian angka tondong na ro, pittor disuru oma hian do sian hami marikkati manjou Bapa tu lapo; sian marcatur, marjoker karo, markoa. ido tong parbadaanna dihalak i nadua.....monding di Bogor do thn 2001, jala laos huboan hami do tu Lintongnihuta. Biasana perlakuan khusus jala jalur khusus do molo mamboan peti mati, attar leleng do prosesna. Pas tingki i, petugas di Bandara i adong bekas muridna " bah bapak TLT do on kan, guru ku do najolo on" ala ni ido gabe hatop jala boi berangkat hami sapesawat jam 10 pagi....

    BalasHapus